BERBAGI

bumilampung.com – GALAU, itulah kata yang tepat untuk menggambarkan suasana hati Pak Nur Rohim, petani sawit di Kabupaten Bangka Tengah, menghadapi kenyataan jatuhnya harga tandan buah sawit (TBS) yang tak kunjung beranjak bangkit.

Sudah bertahun-tahun fluktuasi harga TBS yang diterima petani hampir tidak beranjak dari angka Rp 600-700 per kg, bahkan sempat beberapa kali lebih parah di bawah itu. Dengan harga sebesar ini sulit bagi petani sawit, seperti Pak Nur Rohim yang hanya memiliki lahan 2 hektar, untuk memiliki pendapatan yang layak.

Dan Pak Nur Rohim tidak sendiri, ada ribuan bahkan jutaan petani sawit se-Indonesia seperti Pak Nur Rohim yang mengalami kegalauan yang sama.

IKLAN

Tapi hidup harus terus berjalan. Dari kesulitan itu lah seringkali memacu orang untuk berkreasi. Semua berawal pada tahun 2011, saat pemerintah Kabupaten Bangka Tengah mulai menggalakkan program integrasi sawit dengan sapi agar para petani memperoleh tambahan pendapatan dari beternak sapi.

Alih-alih mendapatkan tambahan pendapatan, di awal program yang ada adalah kerepotan: para petani, termasuk Pak Nur Rohim, waktunya habis tersita untuk mencari rumput pakan sapi.

“Kalau hanya diliarkan saja di kebun sawit sapi kekurangan makanan, tak bisa gemuk, tak bisa berkembang”, begitu tutur Pak Nur Rohim pada sebuah momen kunjungan peserta pelatihan Kewirausaan Petani Milenial ke lokasinya beberapa waktu.

BACA JUGA  BPP Lampung Targetkan Peningkatan SDM 100 KSTM

Maka lahirlah inovasi untuk mengolah pelepah sawit menjadi pakan ternak. Dengan tambahan bahan baku dari berbagai limbah yang melimpah di Bangka Tengah dan sekitarnya, racikan pakan ternak hasil inovasi Pak Nur Rohim dan kawan-kawan kini menjadi teknologi yang sangat bermanfaat bagi banyak orang.
Selain waktu yang tidak lagi tersita untuk mencari rumput, banyak keuntungan lain yang diperoleh dari pengembangan teknologi pakan sapi dari pelepah sawit ini.

Dari limbah kotoran sapi, Pak Nur Rohim dan kelompoknya mendapatkan keuntungan dari pemanfaatannya untuk pupuk kompos maupun pupuk cair organik yang digunakan untuk menyuburkan tanaman sawit.

“Dengan penggunakan pupuk ini, alhamdulillah, produksi tandan buah segar sawit bisa meningkat dari biasanya hanya 600-700 kg per sekli panen, kini bisa mencapai sekitar 1,2 ton”, demikian Pak Nur Rohim menjelaskan. Dengan penggunaan pupuk dari kotoran sapi ini, pupuk kimia yang sebelumnya rutin diaplikasikan, kini tidak diperlukan lagi untuk menyuburkan lahan sawit.

Jadi, dari inovasi ini Pak Nur Rohim dkk. memperoleh keuntungan berlipat: pendapatan bertambah dari ternak sapi yang sehat dan gemuk, juga dari produksi tandan buah sawit yang jumlahnya meningkat 100%.

BACA JUGA  BPP Lampung Akomodir 60 Petani Muda Milenial Kabupaten Banyuasin

“Dapat sapi gemuk sehat, dapat sawit lebih banyak, tak repot cari rumput, hemat pula tak beli pupuk kimia lagi. Istilahnyo sekali dayung dua tiga pulau terlewati, sekali tebas dapat galo-galo.”, terang Pak Nur Rohim dengan khas logat Bangka.

Sebagai upaya berbagi teknologi untuk membantu sesama petani, sejak 2018 Pak Nur Rohim bersama Kelompok Tani Tunas Barunya mendirikan Pusat Pelatihan Pertanian Pedesaan Swadaya (P4S) dan mendapatkan pendampingan langsung dari Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Kementerian Pertanian RI melalui UPT untuk wilayah kerja Sumatera Bagian Selatan yaitu Balai Pelatihan Pertanian (BPP) Lampung.

Dalam kesempatan kunjungan sekaligus membuka kegiatan Pelatihan Kewirausahan Muda di P4S Tunas Maju pada 24 Juli lalu, Kepala BPP Lampung kembali menegaskan komitmennya untuk mendukung pelatihan dan permagangan di P4S Tunas Baru.

“Salah satunya adalah melalui penyelenggaraan Pelatihan Kewirausaan Muda yang di tempatkan di P4S ini.”, ungkap Kepala BPP Lampung, Bapak Dadan Sunarsa, SP, MM.

“Selain itu guna mendukung kelancaran pelatihan dan permagangan di P4S Tunas Baru, BPP Lampung juga siap memberikan pendampingan dalam hal penyusunan kurikulum dan pengembangan SDM Pengelola dan Instruktur di P4S”, tambahnya.

BACA JUGA  Holding PTPN Gelar Partner Gathering Bersama FSPBUN-SPBUN

“Melalui dukungan yang diberikan, kami berharap teknologi tepat guna yang telah dikembangkan oleh P4S Tunas baru bisa diadopsi para petani lain di kawasan Sumbagsel melalui pelatihan dan permagangan yang diselenggarakan”, pungkas kepala BPP Lampung dalam kesempatan tersebut.

Sebagaimana brosur yang disebarluaskan, Teknologi andalan yang dilatihkan di P4S Tunas Baru yang beralamat di Kelurahan Sungai Selan, Kecamatan Sungai Selan, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, ini diantaranya: pembuatan pakan sapi (silase) dari pelepah sawit, mineral blok untuk sapi, serta pembuatan pupuk cair dan kompos yang diperkaya dengan mikroba baik untuk tanah.

Melalui langkah yang mungkin terlihat sederhana itu, apa yang dilakukan Pak Nur Rohim dan kawan-kawan sebenarnya sesuatu yang besar manfaatnya. Setidaknya langkah ini bisa menjadi “setetes air untuk pelepas dahaga” bagi petani sawit yang dilanda galau karena harga tandan buah segar (TBS) tak kunjung membaik hingga saat ini.

Tinggal bagaimana petani-petani sawit di wilayah lain mau tergerak mengadopsi teknologi dan sistem yang telah ditawarkan Pak Nur Rohim tersebut. Sukses untuk pak Nur Rohim cs dan P4S Tunas Baru Bangka Tengah.

Penulis: Ahmad Suryanto (Widyaiswara BPP Lampung)

BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here