BERBAGI

Lampung Utara – Akibat harga penjualan anjlok dibawah harga perawatan, petani lada di Kabupaten Lampung Utara (Lampura), mengeluh. Seperti disampaikan Ratna salah seorang warga yang memiliki perkebunan Lada di Kecamatan Abung Pekurun harga lada saat ini masih jauh dari biaya perawatan yang musti dikeluarkan, akibatnya pendapatan keluarganya untuk menopang hidup sehari-hari sebagai petani menjadi sangat menurun, belum lagi ditambah dengan kenaikkan kebutuhan pokok dipasaran yang menyebabkan semakin memperburuk keadaan ekonomi keluarga, khususnya bagi keluarganya juga para petani lada lainnya.

BACA JUGA  Pemkab Lamsel Dan Polisi Bahu Membahu Brantas COVID-19 DI Areal Pelabuhan Bakauheni

“Kalau disini pasaran harga lada bekisar Rp. 20.000 per kilo sampai Rp. 25.000 per kilo, itu pun tidak sesuai dengan biaya pengeluaran yang harus dilakukan untuk perawatannya,”ujarnya, Minggu (21/7).

Dijelaskannya, sebelumnya harga lada berkisar Rp. 50.000 per kilo, bahkan pernah mencapai Rp. 100.000 Per kilo. Namun sekarang harga jauh menurun sehingga cukup menyulitkan dalam penghidupan sehari-hari. Apalagi kebutuhan pokok yang setiap hari diperlukan warga harganya sedang terus melambung, seperti cabai merah misalnya.

BACA JUGA  Nanang Ermanto Minta Pejabat Pemkab Lamsel Peka Mengantisifasi Penyebaran COVID-19
IKLAN

“Ya selalu begini nasib masyarakat kita, harga komonitas dihasilkan petani harganya menurun sementara yang diperlukan terus meningkat,” jelas dia seraya berharap pihak Pemerintah melalui daerah setempat dapat mencarikan solusi terbaik bagi masyarakat petani lada di Kabupaten Lampura.

“Kami berharap melalui Pemkab setempat dapat mencarikan jalan keluar buat kami selaku petani lada, agar dapat terus mempertahankan Komoditi yang tentunya menjadi salah satu unggulan di Kabupaten kita sejak dulu, “pungkasnya.(Sab/Red1)

BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here