BERBAGI

bumilampung.com – Diane Butler, dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana Bali mengagumi program Bupati Umar Ahmad.

“Pertama kali saya datang di Kabupaten Tulang Bawang Barat (Tubaba) pada bulan November 2019 yang lalu dan langsung rapat dengan Bupati Umar Ahmad tentang beberapa program dan melihat beberapa lokasi dan saya kagum, Bupati itu berani membuat situs megallitic baru yang berkearifan budaya,” ungkap Diane Butler dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana Bali penyaji pada kegiatan pengejawantahan gerak relief pada event sharing time Megallitic Mellinium Art Tubaba, Rabu (22/1/2020) sekira pukul 14.30 Wib saat berbincang hangat bersama wartawan Bumilampung.com di Kota Budaya yang berbasis Ekologi Uluan Nughik.

BACA JUGA  Penawaran Tender Via SIKaP Bermasalah, Rekanan Menduga Lagu Lama ULP Diputar Kembali di Lamteng

“Ada dua sifat relief satu seperti gambar-gambar, gores-goresan pada batu yang ada di Indonesia sangat terkenal tidak hanya Hindu atau Budha ada yang symbol ada tanda yang menunjukan sesuatu, kalau kita bisa mengejawantahkan di body (Tubuh) movement belive setidaknya ada dua hal, satu bisa mengalir secara alami, sekaligus kita mungkin akan masuk lebih lega dan tidak tergangu cerita,”terangnya tentang pengejawantahan gerak relief.

BACA JUGA  Nanang Ermanto  Resmikan Fasilitas Gym Center Di GWH Kalianda

Lebih lanjut dikatakan Diane Butler bahwa, Setiap orang yang datang di event sharing time Megallitic Mellinium Art Tubaba adalah Asset, termasuk yang muda berani dan fokus mencoba sesuatu diluar pengalamannya sendiri dan mereka tidak terjebak pada satu pandangan dunia, dan menurutnya anak muda sekarang harus lebih kuat untuk memfilter dan mensharingkan yang mana yang cocok dan tidak buat mereka.

“Orang yang disini adalah orang yang berpengalaman ada yang masalah Arkeologi, ibu Dr. Een Herdiani rektor ISBI Bandung yang masih berani mencoba sesuatu yang dia tidak mengetahui,”jelasnya.

BACA JUGA  Bendera PDIP Dibakar, DPC PDIP Tubaba Sampaikan Pernyataan Sikap Ke Polres Tubaba

Sementara itu Ezed Qiyoko Wahyuni Pratiwi, Lation official (LO) acara mengatakan bahwa, pengejawantahan gerak relief adalah gerak-garak yang menyatu dengan alam. Dan diharapkan peserta dapat lebih mengenal berbagai macam seni yang disajikan oleh penyaji profesional.

“Saya mendampingi dua penyaji yakni, Miss Diane Butler dan Mr Ari Rudenko penyaji seni pra sejarah dari Amerika. Kegiatan ini diikuti oleh para pelajar dan pelaku seni di Tubaba,”pungkasnya. (snr/asf)

BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here