Ekonomi & BisnisRuwa Jurai

Dari Pucuk Teh, Kartini Menyulam Masa Depan

4
×

Dari Pucuk Teh, Kartini Menyulam Masa Depan

Sebarkan artikel ini
Poto: Kartini memetik teh di perkebunan (Ist)

BUMILAMPUNG.COM – Kabut pagi belum sepenuhnya terangkat saat Kartini (54) mulai menapaki lereng Kebun Teh Malabar, Afdeling Tanara, Bandung. Dengan keranjang di punggung dan jemari yang terlatih, ia memetik pucuk demi pucuk teh, ritme yang telah ia jalani selama lebih dari dua dekade.

Sejak 2002, Kartini mengabdikan diri sebagai pemetik teh di lingkungan PTPN I Regional 2. Waktu tak mengikis ketekunannya. Pada Januari 2026, ia mencatatkan produksi 9,257 ton pucuk teh, setara rata-rata 421 kilogram per hari kerja, angka yang mencerminkan konsistensi sekaligus ketangguhan.

“Yang penting kerja jujur dan sungguh-sungguh,” ujarnya sederhana. Bagi Kartini, kebun teh bukan sekadar tempat mencari nafkah, tetapi ruang untuk merawat harapan terutama bagi masa depan anak-anaknya.

BACA JUGA  Holding Perkebunan Nusantara Akselerasi Ketahanan Pangan, PTPN I Bangun Ekosistem Terintegrasi di Bone

Bersama sang suami, Useng, pensiunan pekerja pemeliharaan tanaman, Kartini tak berhenti berikhtiar.

Di luar jam kerja, mereka menjalankan usaha kecil untuk menambah penghasilan. Hasilnya perlahan terlihat. Anak sulung mereka, Nurdin Cahyadi, kini menempuh pendidikan pascasarjana hukum dan bekerja di Kementerian Sosial. Sementara Apip Ahmad, anak lainnya, menjalani program magang di Taiwan setelah lulus dari Politeknik Negeri Subang.

Di mata rekan kerja, Kartini dikenal disiplin dan tak banyak mengeluh. Asisten Afdeling Tanara, Saeful Rachmat, menyebutnya sebagai sosok pekerja dengan dedikasi tinggi yang kerap melampaui target produksi.

BACA JUGA  Cek Kesehatan Gratis Diserbu Warga Sukajaya

Namun bagi Kartini, keberhasilan bukan semata angka. Ia percaya, nilai kejujuran dan kerja keras adalah warisan terbaik bagi anak-anaknya. Prinsip itu yang ia pegang, bahkan saat usia kian mendekati masa pensiun.

Kini, di sela-sela rutinitasnya, Kartini menyimpan harapan sederhana: menjaga kesehatan, menyaksikan anak-anaknya terus melangkah maju, dan suatu hari menunaikan ibadah umrah bersama suami.

Di antara hamparan hijau Malabar, kisah Kartini menjadi pengingat bahwa keberlanjutan sebuah perkebunan tak hanya ditentukan oleh luas lahan atau hasil panen, tetapi oleh keteguhan manusia yang merawatnya hari demi hari, dengan kesabaran dan harapan yang tak pernah padam.

Editor: Bumilampung. Com