BERBAGI

PESAWARAN – Wakil Bupati Pesawaran, Eriawan mengajak semua pihak untuk menjauhkan generasi muda terhadapat dunia digital dari anasir-anasir pemecah-belah dan konten-konten negatif sehingga bebas berkreasi, bersilaturahmi, berekspresi, dan mendapatkan manfaat.

Sebab, menurut Eriawan saat ini tidak sedikit anak muda kreatif yang mampu menaklukkan gelombang digitalisasi dengan cara mencari berkah di dalamnya. Internet, media sosial, situs web, layanan multimedia aplikasi ponsel pun dijadikan ladang baru buat berkarya dan pasar yang menjanjikan bagi kreativitas. Banyak kreator konten dan pengembang aplikasi Indonesia yang mendunia, mendapatkan apresiasi baik material maupun non-material.

“Dalam konteks menghadapi digitalisasi ini, kita semua harus dalam irama yang serempak dalam memecahkan masalah dan menghadapi para pencari masalah. Sebab tidak ada satu pihak yang tanggung jawabnya lebih besar daripada yang lain untuk hal ini,” kata Eriawan saat menyampaikan amanat Menteri Komunikasi dan Informatika RI pada Hari Kebangkitan Nasional Ke-110 Tahun 2018 dilingkungan Pemda setempat, Senin (21/5).

BACA JUGA  Harga Pupuk Kimia Mahal, Pemkab Tubabar Akan Buat Pelatihan Pembuatan Pupuk Organik
IKLAN

Apalagi, lanjut Eriawan, dahulu saja bangsa Indonesia meski keterbatasan akses pengetahuan dan informasi, tapi dengan keterbatasan teknologi masih dapat untuk berkomunikasi, berhimpun dan menyatukan pikiran untuk memperjuangkan kedaulatan bangsa. “Seharusnya sekarang kita juga bisa, sepikul berdua, menjaga dunia yang serba digital ini, agar menjadi wadah yang kondusif bagi perkembangan budi pekerti, yang seimbang dengan pengetahuan dan keterampilan generasi penerus kita,” ucapnya.

BACA JUGA  Banjir Akibat Infrastruktur Sungai Rusak

Dikatakanya, saat ini sejarah membuktikan bahwa semangat dan komitmen saja telah cukup, asalkan kita bersatu dalam cita-cita yang sama demi kemerdekaan bangsa. Presiden Pertama dan Proklamator Kemerdekaan Republik Indonesia, Soekarno, pada peringatan Hari Kebangkitan Nasional tahun 1952 mengatakan bahwa: “Pada hari itu kita mulai memasuki satu cara baru untuk melaksanakan satu ‘ide’, satu naluri pokok dari pada bangsa Indonesia. Naluri pokok ingin merdeka, naluri pokok ingin hidup berharkat sebagai manusia dan sebagai bangsa.

BACA JUGA  Bupati Winarti : Keterbatasan Fisik Jangan Jadi Halangan Menggapai Cita-Cita

Para pendahulu yang berkumpul dalam organisasi-organisasi seperti Boedi Oetama memberikan yang terbaik bagi terbentuknya bangsa melalui organisasi. Bukan pertama-tama dengan memberikan harta atau senjata, melainkan dengan komitmen sepenuh jiwa raga, mereka terus menghidup-hidupi api nasionalisme dalam diri masing-masing.

“Seratus sepuluh tahun kemudian bangsa ini telah tumbuh menjadi bangsa yang besar dan maju, sejajar dengan bangsa-bangsa lain. Meski belum sepenuhnya sempurna, rakyatnya telah menikmati hasil perjuangan para pahlawannya berupa meningkatnya perekonomian, kesehatan, pendidikan dan sebagainya. Keringat dan darah pendahulu bangsa telah menjelma menjadi hamparan permadani perikehidupan yang nyaman dalam rengkuhan kelambu kemerdekaan,” tandasnya. (red)

BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here