Berita UtamaKriminalLampung SelatanNasionalRuwa Jurai

Di Bawah Semilir Pantai Senaya, Wartawan Lampung Selatan Belajar Menjaga Damai

21
×

Di Bawah Semilir Pantai Senaya, Wartawan Lampung Selatan Belajar Menjaga Damai

Sebarkan artikel ini
Kapolres dan jajaran Bersama Pengurus PWI Lamsel ( dok Humaa Polres Lamsel).

BUMILAMPUNG.COM- Tak semua urusan organisasi harus dibahas di ruang rapat yang kaku. Selasa (6/1/2026), di bawah langit cerah Pantai Senaya Beach, Kalianda, insan pers Lampung Selatan memilih cara yang lebih hangat: duduk bersama, berbincang, dan saling mengingatkan tentang satu hal paling penting—menjaga damai.

Di tempat itulah panitia Konferensi Kabupaten (Konferkab) Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Lampung Selatan bertemu Kapolres Lampung Selatan AKBP Toni Kasmiri. Pertemuan itu bukan sekadar agenda formal menjelang Konferkab yang akan digelar 14 Januari 2026 di Grand Elty Krakatoa, melainkan ruang dialog antarmanusia yang sama-sama ingin menjaga ketenangan.

Obrolan berlangsung cair. Sesekali terdengar tawa kecil, namun pesan yang disampaikan tetap serius. Kapolres AKBP Toni Kasmiri, didampingi Wakapolres dan jajaran pejabat utama, berbicara dengan nada santai, tapi menyentuh.

“Konferkab harus damai. Jangan gelut-gelut, pokoknya harus damai,” ujarnya singkat. Kalimat sederhana itu mengandung harapan besar: perbedaan pilihan tak boleh merusak persaudaraan.

Bagi Toni Kasmiri, wartawan bukan sekadar mitra kerja, tetapi bagian penting dari penjaga keseimbangan informasi dan demokrasi di daerah. Karena itu, keamanan bukan hanya soal pengamanan fisik, melainkan juga menjaga suasana batin agar tetap sejuk.

Di sisi lain, Ketua PWI Lampung Selatan Supradianto mendengarkan dengan seksama. Bersama jajaran panitia, ia menyadari bahwa Konferkab bukan hanya tentang memilih ketua, tetapi tentang kedewasaan bersikap.

“Kami ingin Konferkab ini menjadi ruang silaturahmi, bukan arena konflik,” ucapnya. Baginya, etika, saling menghormati, dan rasa persatuan sesama wartawan jauh lebih penting dari sekadar menang atau kalah.

Ketua Panitia Konferkab, Muslim Pranata, memandang audiensi ini sebagai langkah kecil dengan dampak besar. Menyatukan pemahaman sejak awal, menurutnya, akan memudahkan semua pihak menjaga suasana tetap aman dan nyaman.

Debur ombak yang terdengar pelan seolah mengiringi pertemuan itu. Tak ada ketegangan, tak ada jarak. Yang ada hanyalah kesadaran bersama bahwa organisasi akan kuat jika dibangun dengan hati yang tenang.

Di Pantai Senaya, PWI Lampung Selatan belajar satu hal sederhana namun mendasar: demokrasi bukan hanya soal memilih, tetapi tentang cara menghargai perbedaan. Dan di sanalah, harapan untuk Konferkab yang damai dan bermartabat tumbuh, pelan tapi pasti.

Editor: Lim.